TANJUNG SELOR – Kawasan industri di Kalimantan Utara sebagai salah satu Program Startegis Nasional (PSN) dipastikan terus berlanjut. Bahkan, melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), yang merupakan tenan utama dari PT Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) akan melakukan produsi aluminium Desember mendatang.
Hal itu dipaparkan pihak perusahaan saat kunjungan resmi Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang bersama Kapolda Kaltara Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy dan Bupati Bulungan Syarwani, Rabu (12/11). PT KAI yang tengah fokus menggarap proyek smelter aluminium di Desa Mangkupadi, Tanjung Palas Timur, Bulungan, menargetkan produksi bulan depan dan secara bertahap berlanjut ke awal tahun depan dan seterusnya.
“Kita target bulan depan produksi 500 ribu ton. Tetapi akan produksi up to 100 ribu ton dulu. Jadi benar-benar bertahap sifatnya, sampai ke tahun depan. Karena yang utamanya listrik, jadi listrik itu harus mengalir setiap saat sehingga smelter tetap beroperasi,” kata Presiden Direktur PT KAI Wito Krisnahadi.
Sebagai salah satu wilayah yang merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), KIPI juga mengembangkan kebutuhan infrastruktur dasar. Seperti pembangunan jalan akses, Instalasi Pengelolaan Air (IPA), menara telekomunikasi, area pengelolaan limbah, infastruktur ketenagalistrikan hingga komersial lainnya.
“Kalau secara fisik mungkin 70-80 persen sudah selesai. Tapi memang ketergantungan terhadap listrik yang ada, membuat kita harus memastikan developmen dan produksi smelter berjalan maksimal. Oleh karenanya harus bertahap,” imbuhnya.
Wito juga menjelaskan, produksi aluminium di Kaltara, mengutamakan bahan baku dari Indonesia. Meski, tidak menutup kemungkinan, jika ketersediaan berkurang, bisa mendatangkan dari negara lain.
“Bahan baku alumina dari lokal. Ada beberapa produksi alumina dari dalam negeri. Dari Kalimantan Barat, dari Sintan. Fokusnya alumina dari dalam (negeri) dulu. Namun tidak memnutup kemungkinan dari negara lain, misal dari Vietnam atau Australia kalau ketersediaan alumina kita tidak mencukupi,” terangnya.
Kehadiran KIPI di Kaltara disebut memberikan dampak perkembangan ekonomi bagi daerah. Khususnya terhadap serapan tenaga kerja, dimana berdasarkan data ketenagakerjaan hingga Oktober 2025 mencapai 12.000 orang. Adapun sebarannya, sebanyak 71 persen tenaga kerja Indonesia dan 29 persen Tenaga Kerja Asing (TKA).
“Untuk pekerja di area ini diutamakan pekerja lokal, dan memang terbukti 71 persen dari jumlah 12.000 pekerja yang ada di kawasan ini,” kata Gubernur Zainal A Paliwang usai mendapatkan laporan dari pihak perusahaan.
Gubernur berharap, ke depan saat sudah produksi, warga Kaltara lebih banyak yang dipekerjakan. Sehingga, keberadaan industri benar-benar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita bersyukur bahwa dengan adanya Kawasan Ekonomi Khusus ini, bisa menyerap tenaga kerja lokal. Karena otomatis mengurangi angka pengagguran,” ujarnya.
Dia juga menuturkan perkembangan pembangunan yang signifikan. Setelah sebelumnya, di tahun 2023 berkunjung ke kawasan, tahun ini tampak progress yang sangat cepat.
“Luar biasa kemajuan di 2025 ini dan Insyaallah akhir tahun ini sudah mulai produksi pertama untuk aluminium,” tambah gubernur.
Kinerja KIPI diproyeksikan akan terus berlanjut, dan memberikan manfaat yang lebih banyak terhadap ekonomi yang melibatkan masyarakat sekitar. Termasuk di bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
“Tentu kita berharap, manfaat KIPI ini bisa dirasakan oleh masyarakat di Kaltara,” pungkasnya. (fid/new)